BALANGAN – Harga terong ungu di Desa Tebing Tinggi, Kabupaten Balangan, mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Jika sebelumnya hanya berada di kisaran Rp5.000 per kilogram, kini harga terong ungu mencapai Rp7.500 per kilogram.
Salah seorang petani asal Tebing Tinggi, Harni, mengaku bersyukur dengan kenaikan harga tersebut. Menurutnya, harga terong saat ini lebih baik dibandingkan beberapa bulan sebelumnya sehingga memberikan tambahan pendapatan bagi para petani.
“Alhamdulillah, harga terong ungu sekarang lebih tinggi dibanding bulan sebelumnya. Saat ini harganya Rp7.500 per kilogram,” ujar Harni.
Ia menjelaskan, tidak hanya terong ungu, harga terong madu juga berada pada kisaran yang sama, yakni Rp7.500 per kilogram. Dari pengalamannya bertani, menanam terong dinilai lebih mudah dan menguntungkan dibandingkan cabai.
Menurut Harni, budidaya terong tidak memerlukan banyak pestisida, perawatannya lebih sederhana, serta tanaman lebih tahan dan tidak mudah mati. Berbeda dengan cabai yang membutuhkan biaya perawatan lebih besar karena harga obat-obatan dan pestisida yang cukup mahal.
“Kalau dibandingkan berkebun cabai, lebih enak menanam terong. Tidak ribet, tidak banyak menggunakan pestisida, pohonnya juga tidak mudah mati. Kalau cabai, obatnya mahal, perawatannya capek, cepat mati, dan harganya sering naik turun,” jelasnya.
Saat ini, dalam satu minggu Harni mampu memanen sekitar 20 hingga 25 kilogram terong. Meski jumlah tersebut belum terlalu banyak karena masih dalam tahap mencoba budidaya terong, ia mengaku sudah merasakan manfaat dan kemudahan dari usaha tani tersebut.
“Dalam seminggu kami bisa memetik sekitar 20 sampai 25 kilogram. Karena baru mencoba menanam terong, hasilnya memang belum banyak. Namun kami sudah merasakan bahwa menanam terong lebih mudah dibandingkan cabai,” pungkasnya.












