Gandeng Tim Pengabdian UM, Bocah Meratus di SD Kecil Raranum Kini Mahir “Menyulap” Air Keruh Pasca-Banjir

​BALANGAN. – Bagi keluarga besar Sekolah Dasar (SD) Kecil Raranum, banjir bandang bukan sekadar genangan air yang meliburkan kelas. Lebih dari itu, bencana musiman di punggung Pegunungan Meratus ini selalu meninggalkan “oleh-oleh” yang pelik: lumpur pekat yang mengontaminasi satu-satunya sumber air bersih sekolah, membuat aktivitas sanitasi lumpuh total.

 

​Namun, pemandangan di sekolah yang terletak di Dusun Kaitan, Desa Langkap, Kecamatan Tebing Tinggi, Kabupaten Balangan ini kini jauh berbeda. Sekolah pedalaman ini mulai menemukan formula mandiri untuk bangkit dari dampak sisa bencana.

 

​Melalui pendampingan intensif dari Tim Pengabdian Masyarakat Universitas Negeri Malang (UM) pada Selasa (30/6/2026) lalu, ruang kelas SD Kecil Raranum mendadak berubah menjadi laboratorium alam yang riuh. Para murid tidak lagi menatap papan tulis dengan lesu, melainkan sibuk merakit alat penjernih air mandiri bernama PENYULAP-AIR (Penyaringan Unggul Langsung Pakai).

​Pihak sekolah menyambut baik metode pembelajaran berbasis learning by doing ini. Alih-alih membawa peralatan mekanis yang rumit, para siswa justru diajak mengumpulkan material yang melimpah di sekitar lingkungan sekolah dan rumah mereka, seperti botol plastik bekas, kerikil, pasir, arang, ijuk, hingga serabut kelapa.

 

​Sambil melatih motorik dan logika sains sederhana, tangan-tangan mungil siswa Meratus ini telaten menyusun lapisan demi lapisan filter alami tersebut. Pekikan gembira bergaung di ruang kelas saat air cokelat pekat yang dimasukkan dari atas botol, perlahan keluar menjadi tetesan air jernih di bagian bawah.

 

​Bagi SD Kecil Raranum, keberhasilan eksperimen sederhana ini adalah sebuah lompatan besar. Keterampilan ini menjadi “senjata baru” bagi para murid agar tidak lagi menjadi korban pasif yang hanya meratapi krisis air bersih setiap kali badai dan banjir melanda.

​Dampak dari pelatihan ini diproyeksikan akan membawa efek domino yang luas bagi komunitas Dusun Kaitan. Selain membekali siswa dengan kesadaran Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) sejak dini, pihak sekolah berharap para murid dapat menjadi “agen perubahan” di keluarga masing-masing.

 

​”Kami ingin mereka tidak hanya menjadi penonton, tetapi aktor yang mampu menolong diri mereka sendiri saat krisis datang,” ujar Ema Novita Deniati, S.K.M., M.K.M., Ketua Tim Pengabdian UM di sela-sela kegiatan.

 

​Dengan membawa pulang pengetahuan taktis ini, para murid kini bisa mengajarkan orang tua mereka cara mendapatkan air bersih darurat secara mandiri saat akses geografis terputus oleh banjir.

 

​Melalui kolaborasi erat antara akademisi dan ketangguhan bocah-bocah Meratus ini, SD Kecil Raranum membuktikan bahwa keterbatasan fasilitas di daerah rawan bencana dapat ditaklukkan dengan inovasi tepat guna. Sebotol air jernih yang berhasil mereka saring hari itu adalah simbol lahirnya generasi baru Meratus yang tangguh dan mandiri melawan tantangan alam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *