Habarbalangan.com — Penguatan sumber daya manusia (SDM) menjadi salah satu kunci dalam membangun organisasi olahraga yang profesional dan berorientasi pada prestasi. Hal tersebut disampaikan Dosen Jurusan Manajemen Universitas Sapta Mandiri, Raditia, saat menjadi pemateri dalam Pelatihan Manajemen Keorganisasian dan Administrasi yang digelar Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kabupaten Balangan, Kamis (22/10/2026).
Dalam kegiatan tersebut, Raditia memaparkan pentingnya penerapan manajemen sumber daya manusia dalam pengelolaan cabang olahraga (cabor), mulai dari penataan pengurus, pengembangan kompetensi pelatih dan atlet, hingga penguatan administrasi serta evaluasi kinerja organisasi.
Menurutnya, keberhasilan sebuah cabang olahraga tidak hanya ditentukan oleh bakat dan kemampuan teknis atlet, tetapi juga dipengaruhi kualitas manajemen yang mendukung proses pembinaan. Karena itu, setiap cabor perlu memiliki sistem pengelolaan yang terarah, pembagian tugas yang jelas, serta program kerja yang disusun berdasarkan kebutuhan dan target yang realistis.
Raditia menjelaskan, pengelolaan SDM olahraga mencakup empat fungsi manajerial, yakni perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), pengarahan (directing), dan pengendalian (controlling). Keempat fungsi tersebut perlu diterapkan secara konsisten agar setiap program dapat berjalan efektif dan sesuai tujuan organisasi.
Melalui perencanaan yang matang, pengurus cabor dapat memetakan kebutuhan atlet, pelatih, serta tenaga pendukung. Sementara itu, pengorganisasian membantu memperjelas tanggung jawab setiap personel, pengarahan menjaga keselarasan pelaksanaan program, dan pengendalian menjadi dasar untuk melakukan pemantauan serta evaluasi.
Ia juga menekankan bahwa pengelolaan SDM harus memperhatikan kompetensi, motivasi, kedisiplinan, penghargaan, dan penilaian kinerja. Dengan menempatkan orang sesuai kemampuan dan tanggung jawabnya, organisasi diharapkan mampu membangun lingkungan kerja yang produktif serta meningkatkan kualitas pembinaan atlet.
Dalam pemaparannya, Raditia turut mengulas berbagai persoalan yang dapat menghambat perkembangan prestasi olahraga, seperti penempatan personel yang tidak sesuai kompetensi, program latihan yang tidak konsisten, lemahnya komunikasi, menurunnya motivasi atlet, hingga administrasi organisasi yang belum tertata.
Menurutnya, persoalan tersebut menunjukkan bahwa capaian prestasi tidak dapat dibebankan sepenuhnya kepada atlet. Dukungan organisasi yang kuat, kepemimpinan yang baik, serta koordinasi antara pengurus, pelatih, dan atlet juga menjadi bagian penting dalam menciptakan hasil pembinaan yang optimal.
Untuk memperbaiki kondisi tersebut, setiap cabor didorong menyusun struktur organisasi dan uraian tugas yang jelas, menetapkan target kinerja, membuat kalender pembinaan, serta melaksanakan evaluasi secara berkala. Pemanfaatan administrasi digital dan penguatan dokumentasi juga dapat membantu menciptakan tata kelola yang lebih tertib, transparan, dan akuntabel.
Selain memberikan pemahaman mengenai manajemen SDM, pelatihan tersebut menjadi ruang bagi peserta untuk menyampaikan berbagai persoalan yang dihadapi dalam pembinaan olahraga di Kabupaten Balangan.
Salah satu isu yang mengemuka ialah perlunya kepastian pembinaan bagi atlet potensial dan berprestasi, termasuk atlet dayung. Keberlanjutan karier, kesempatan meningkatkan kemampuan, serta dukungan untuk mengikuti kompetisi pada tingkat yang lebih tinggi dinilai perlu mendapat perhatian agar potensi atlet dapat berkembang secara maksimal.
Peserta juga menyoroti perlunya mekanisme yang jelas terkait perpindahan atlet antarcabor. Pengaturan tersebut diharapkan dapat memberikan kepastian prosedur, mendorong komunikasi antarcabor, serta menjaga kesinambungan pembinaan tanpa mengabaikan hak atlet untuk mengembangkan kariernya.
Di samping itu, kepastian perencanaan anggaran dan koordinasi menjelang kompetisi, termasuk Pekan Olahraga Provinsi (PORPROV) dan persiapan menuju Pekan Olahraga Nasional (PON), turut menjadi perhatian. Perencanaan yang dilakukan lebih awal dinilai penting untuk memetakan kebutuhan setiap cabor, mempersiapkan atlet, serta memastikan penggunaan anggaran sesuai prioritas dan ketentuan yang berlaku.
Berbagai aspirasi tersebut menunjukkan bahwa peningkatan kapasitas pengurus perlu diiringi dengan koordinasi yang baik antara KONI, pemerintah daerah, dan seluruh cabang olahraga. Ruang komunikasi yang berkelanjutan diharapkan dapat membantu mengidentifikasi kendala sejak dini sekaligus menghasilkan solusi yang sesuai dengan kebutuhan pembinaan.
Melalui pelatihan ini, para peserta diharapkan mampu menerapkan pengetahuan manajemen SDM dalam organisasi masing-masing, sekaligus menyusun langkah perbaikan yang terukur. Upaya tersebut dapat dimulai dari pembenahan administrasi, peningkatan kompetensi pengurus dan pelatih, penguatan koordinasi, hingga penyusunan program pembinaan jangka panjang.
Dengan pengelolaan organisasi yang semakin profesional dan dukungan pembinaan yang berkelanjutan, olahraga Kabupaten Balangan diharapkan mampu berkembang lebih baik, memberikan kepastian bagi atlet dalam mengembangkan potensinya, serta meningkatkan peluang meraih prestasi di berbagai ajang kompetisi.












