Harga Cabai Merah Keriting di Balangan Tembus Rp75 Ribu per Kilogram

Harga Cabai Merah Keriting Balangan Naik, Tembus Rp75 Ribu, Petani Terkendala Kemarau. (Foto : Habar Balangan)

Habarbalangan.com — Harga cabai merah keriting (CMK) di Kabupaten Balangan, Kalimantan Selatan, mengalami lonjakan cukup signifikan. Di tingkat petani, komoditas tersebut kini dijual pada kisaran Rp60 ribu hingga Rp75 ribu per kilogram, tergantung kualitas.

Kondisi itu berbanding terbalik dengan harga pada awal Juli 2026 lalu. Saat itu, harga cabai merah keriting sempat turun tajam hingga hanya berada di sekitar Rp15 ribu per kilogram.

Petani cabai di Balangan, Khairullah, mengatakan kenaikan harga dalam beberapa waktu terakhir tidak terlepas dari tingginya permintaan pasar. Di sisi lain, jumlah cabai yang tersedia di tingkat petani justru masih terbatas.

“Sekarang harga sekitar Rp60 ribu sampai Rp75 ribu per kilogram, tergantung kualitas. Permintaan pasar banyak, sementara barangnya sedikit,” ujar Khairullah, Jumat (25/9/2026).

Meski harga sedang tinggi, kondisi tersebut belum sepenuhnya menguntungkan petani karena produksi menghadapi kendala akibat musim kemarau. Cuaca kering yang telah berlangsung hampir tiga bulan membuat proses pemeliharaan tanaman cabai semakin berat.

Menurut Khairullah, keterbatasan sumber air menjadi salah satu persoalan utama yang dihadapi petani. Tanaman cabai membutuhkan pasokan air yang cukup agar dapat tumbuh dan menghasilkan buah secara optimal.

“Sekarang perawatan CMK sangat sulit karena kurangnya air. Sudah hampir tiga bulan musim kemarau, banyak tanaman petani yang sudah tumbang,” katanya.

Ia mengkhawatirkan kondisi kemarau berkepanjangan tersebut akan semakin menekan produksi cabai merah keriting di Balangan. Apalagi, permintaan pasar masih tinggi sementara pasokan dari petani belum mampu memenuhi kebutuhan.

Karena itu, Khairullah berharap ada perhatian dan dukungan pemerintah untuk membantu petani menghadapi dampak musim kemarau. Salah satu upaya yang diharapkannya dapat dilakukan adalah hujan buatan apabila kondisi dan teknis di lapangan memungkinkan.

Dengan dukungan tersebut, ia berharap ketersediaan air bagi lahan pertanian dapat kembali tercukupi sehingga tanaman cabai yang masih bertahan bisa dipelihara dan produksi tetap terjaga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *