PARINGIN — Akses pendidikan tinggi yang merata bagi seluruh lapisan masyarakat, termasuk mereka yang berada di pelosok, kini bukan lagi sekadar angan. Di Kabupaten Balangan, Universitas Sapta Mandiri (Univsm) mengambil langkah progresif dengan membuka pintu seluas-luasnya bagi masyarakat rentan, perempuan, masyarakat adat, hingga warga di kawasan Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T).
Komitmen ini selaras dengan upaya Univsm sebagai mitra strategis Pemerintah Kabupaten Balangan dalam menyukseskan program unggulan 1.000 sarjana. Hal ini mengemuka saat peliputan khusus oleh Kompas TV di kampus Univsm, Kamis (26/3/2026), bertepatan dengan momen perayaan Hari Jadi Kabupaten Balangan.
Penerapan pendidikan inklusi di Univsm terbukti bukan sekadar wacana. Rektor Univsm, Abdul Hamid, mengungkapkan bahwa saat ini sekitar 20 persen dari total mahasiswa mereka berasal dari kalangan masyarakat adat dan wilayah 3T.
“Program 1.000 sarjana ini merupakan program Bupati Balangan melalui Pemkab, dan Univsm hadir sebagai kampus mitra dalam mendukung serta menjalankan program tersebut,” ujar Hamid.
Pendekatan inklusi ini diterapkan secara menyeluruh di semua lini, mulai dari Fakultas Kesehatan, Sains dan Teknik, Keguruan dan Ilmu Pendidikan, hingga Sosial Humaniora. Keempat fakultas ini didorong menjadi ujung tombak yang mengimplementasikan nilai-nilai inklusivitas, memastikan tidak ada lagi sekat dalam menuntut ilmu.
Lebih lanjut, Hamid menegaskan bahwa hakikat dari beasiswa ini adalah pemerataan dan keadilan sosial di bidang pendidikan.
“Kami ingin memastikan bahwa program 1.000 sarjana ini tidak hanya menjadi capaian angka, tetapi benar-benar memberikan kesempatan yang setara bagi semua kalangan untuk memperoleh pendidikan tinggi,” tambahnya.
Melalui sinergi kuat bersama pemerintah daerah, Univsm berharap dapat terus menjadi motor penggerak pendidikan yang berkeadilan di Bumi Sanggam.















