Kemarau Panjang, Sawah Balangan Mengering dan Petani Terancam Gagal Panen

Kemarau Melanda Balangan, Puluhan Hektare Sawah Petani Gagal Panen

Habar Balangan – Kemarau panjang yang melanda Kabupaten Balangan mulai berdampak serius terhadap sektor pertanian. Sejumlah areal persawahan mengalami kekeringan parah, dengan kondisi tanah yang retak dan tanaman terancam mati akibat minimnya pasokan air.

Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKPPP) Kabupaten Balangan kini mempercepat langkah penanganan dengan menyiapkan mesin pompa air bertenaga surya. Upaya tersebut dilakukan untuk membantu mengairi lahan pertanian yang terdampak kekeringan sekaligus menjaga ketersediaan pangan daerah.

Kepala DKPPP Balangan, Rizkianor Fauzi, mengatakan beberapa wilayah saat ini masuk dalam kategori rawan kekeringan. Kondisi terparah terjadi di Batumandi akibat kerusakan bendungan, serta Paringin dan Paringin Selatan yang mengalami krisis air cukup ekstrem.

“Zona merah kekeringan ada di Batumandi akibat kerusakan bendungan, serta Kecamatan Paringin dan Paringin Selatan yang mengalami krisis air ekstrem,” ujarnya, Selasa (17/8/2026).

Untuk mengurangi dampak kekeringan, pemerintah telah mengoperasikan dua unit pompa di Riwa dan Bungin. Selain itu, enam unit pompa tambahan disiapkan untuk dipasang di sejumlah titik di Kecamatan Awayan, Halong, Paringin, dan Paringin Selatan.

Setiap mesin pompa diproyeksikan mampu membantu pengairan lahan hingga sekitar 25 hektare. Pemerintah juga memastikan ketersediaan pangan daerah masih dalam kondisi aman, ditopang hasil panen tahun sebelumnya yang mencapai lebih dari 83 ton.

Namun, kondisi tersebut belum sepenuhnya mampu mengatasi persoalan yang dirasakan petani di lapangan. Di sejumlah wilayah, keterbatasan sumber air membuat tanaman tidak dapat berkembang secara optimal. Bahkan, sebagian petani harus menerima kenyataan kehilangan hasil panen.

Salah satunya dialami petani di Desa Binju, Kecamatan Halong. Ketua Kelompok Tani Desa Binju, Nabhan, mengatakan kekeringan tahun ini memberikan dampak besar terhadap aktivitas pertanian sekaligus pendapatan masyarakat.

Menurutnya, sekitar 20 hektare lahan miliknya mengalami kekeringan parah. Tanah persawahan bahkan telah mengalami retakan akibat tidak mendapatkan pasokan air yang cukup.

“Tahun ini kami terpaksa gagal panen. Lahan seluas 20 hektare milik saya benar-benar kering dan tanahnya sampai pecah-pecah,” ungkapnya.

Tak hanya kekurangan air, petani juga menghadapi persoalan lain berupa serangan hama. Cuaca panas dan kondisi lahan yang kering dinilai membuat populasi hama, terutama tikus, meningkat sehingga tanaman yang masih bertahan turut mengalami kerusakan.

“Musim kering ini membuat hama seperti tikus berkembang biak jauh lebih cepat dari biasanya, sehingga merusak tanaman yang tersisa,” katanya.

Kondisi tersebut membuat petani di Halong berharap bantuan pengairan dapat segera menjangkau lahan-lahan yang terdampak, sehingga kerugian akibat kemarau tidak semakin meluas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *