BAKULA, Inovasi Jemput Bola Kesehatan yang Hadir di Awayan

Habarbalangan – Di pelosok Kecamatan Awayan, akses menuju fasilitas kesehatan tak selalu mudah. Jarak desa yang berjauhan, kondisi jalan yang tidak selalu bersahabat, hingga keterbatasan fisik warga lanjut usia membuat sebagian masyarakat kesulitan untuk sekadar memeriksakan tekanan darah atau mengontrol gula darah.

Namun sejak hadirnya BAKULA (Bakunjung Kula Warga Awayan), wajah layanan kesehatan berubah. Program jemput bola yang dijalankan Puskesmas Awayan ini mengubah pola pelayanan konvensional menjadi lebih dekat, cepat, dan merata hingga menjangkau 23 desa.

Program yang mulai diuji coba pada 2022 dan resmi diterapkan pada awal 2024 ini kini memasuki tahun ketiganya. Pada 2025, BAKULA terus dilanjutkan dan diperkuat dengan sejumlah pembaruan, dengan fokus khusus pada warga berusia lanjut, penyandang disabilitas, penderita hipertensi dan diabetes melitus, serta pasien pasca-rujukan yang kesulitan datang ke fasilitas kesehatan.

Kepala Puskesmas Awayan, dr. Winphy Prasetyo, mengenang kondisi sebelum BAKULA ada. Kunjungan rumah pada masa itu tidak terjadwal, tenaga kesehatan terbatas, dan hanya beberapa desa yang terlayani.

“Banyak warga yang secara fisik tidak mampu datang ke puskesmas. Ada juga yang jaraknya sangat jauh dari fasilitas kesehatan. Kondisi ini membuat kami perlu menghadirkan layanan jemput bola yang terkoordinasi,” tutur dr. Winphy.

Dari kebutuhan itulah BAKULA lahir, membawa konsep kunjungan rumah terpadu—sekali turun ke desa, berbagai pelayanan kesehatan bisa dilakukan dalam satu waktu.

Setiap tim BAKULA yang turun ke desa memberikan sejumlah layanan langsung, di antaranya:

  • Posyandu balita
  • Posyandu lansia
  • Posbindu
  • Pemeriksaan hipertensi & diabetes
  • Perkesmas
  • Konseling kesehatan
  • Homecare untuk pasien pasca-rujukan

Program ini juga mengandalkan peran kader kesehatan desa yang membantu deteksi dini, pemantauan rutin, hingga pelaporan kasus ke Puskesmas Awayan.

“BAKULA bukan hanya kunjungan rumah. Ini layanan terpadu yang membuat pelayanan lebih cepat, efektif, dan menjangkau seluruh desa,” jelas dr. Winphy.

Meski beberapa daerah memiliki program serupa, BAKULA punya ciri khas:

  • Fokus pada kelompok rentan
  • Menggabungkan banyak layanan dalam satu kunjungan
  • Pelibatan aktif kader desa
  • Dukungan ambulans desa gratis via WhatsApp
  • Bisa melayani pasien terdata maupun pasien baru yang ditemukan di lapangan

“Keterpaduan ini membuat pelayanan jauh lebih efisien. Sekali turun, semua program jalan,” tambahnya.

Hampir tiga tahun berjalan, program ini mencatat sejumlah capaian:

  • Menjangkau seluruh 23 desa, rata-rata 80 individu/keluarga terlayani per tahun
  • Capaian SPM meningkat, di antaranya:
  • Pelayanan lansia: 100% pada 2023 dan tetap 100% pada 2024
  • Pelacakan TB: 59,1% (2023) naik menjadi 107% (2024)
  • Pelayanan lebih cepat karena dilakukan berbarengan dengan Posyandu, Posbindu, dan Perkesmas

“Warga yang dulu sulit terjangkau sekarang bisa mendapat pelayanan kesehatan yang layak,” ucap dr. Winphy.

Di balik angka-angka capaian itu, ada harapan besar yang ingin diwujudkan Puskesmas Awayan melalui BAKULA.

“Kami ingin masyarakat aktif menjaga kesehatannya, tidak menunggu sakit dulu. BAKULA hadir untuk memudahkan, terutama bagi kelompok rentan,” tutup dr. Winphy.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *