Habarbalangan.com — Seorang konsumen bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite mempertanyakan dugaan ketidaksesuaian pencatatan kuota pada aplikasi MyPertamina setelah melakukan pengisian BBM di salah satu SPBU di Kecamatan Batumandi, Kabupaten Balangan, Kalimantan Selatan, Minggu (11/10/2026).
Konsumen tersebut mengaku membeli Pertalite senilai Rp130 ribu atau sekitar 13 liter untuk kendaraannya. Namun, saat memeriksa kuota melalui aplikasi MyPertamina, ia mendapati angka pemakaian yang tercatat mencapai 46 liter. Perbedaan tersebut membuatnya mempertanyakan penyebab munculnya angka yang tidak sesuai dengan jumlah BBM yang menurut pengakuannya telah dibeli.
Ia berharap adanya penjelasan dari pihak pengelola SPBU maupun Pertamina terkait perbedaan pencatatan tersebut. Menurutnya, pemeriksaan diperlukan untuk memastikan apakah hal itu disebabkan gangguan sistem aplikasi, kesalahan pencatatan transaksi, atau faktor lain yang perlu ditelusuri lebih lanjut.
Selain persoalan kuota, konsumen itu juga menyoroti aktivitas seseorang yang disebutnya menguasai selang pengisian BBM di area SPBU. Berdasarkan pengamatannya, orang tersebut tidak mengenakan seragam maupun atribut yang menunjukkan identitas sebagai petugas SPBU. Ia menduga orang itu merupakan pelangsir BBM yang kerap dilihatnya saat mengantre untuk mengisi bahan bakar di lokasi tersebut.
Meski demikian, dugaan mengenai aktivitas pelangsiran maupun keterkaitannya dengan ketidaksesuaian pencatatan kuota tersebut belum dapat dipastikan. Diperlukan klarifikasi dari pengelola SPBU dan pihak terkait untuk mengetahui identitas, kewenangan, serta prosedur pengisian BBM yang berlaku di lokasi itu.
Konsumen juga mempertanyakan mekanisme pengawasan terhadap transaksi BBM bersubsidi, termasuk prosedur pencatatan melalui aplikasi MyPertamina dan ketentuan bagi orang yang diperbolehkan mengoperasikan selang pengisian. Menurutnya, transparansi dalam pelayanan menjadi hal penting agar masyarakat mendapatkan kepastian mengenai jumlah BBM yang dibeli dan kuota yang tercatat.
Di tengah keluhan masyarakat mengenai sulitnya memperoleh BBM di sejumlah SPBU wilayah Balangan, persoalan ini diharapkan mendapat perhatian serius. Konsumen meminta agar riwayat transaksi diperiksa dan dilakukan penelusuran untuk memastikan penyebab perbedaan angka tersebut, sekaligus mengetahui apakah terdapat konsumen lain yang mengalami kejadian serupa.
Hingga berita ini disusun, dugaan ketidaksesuaian pencatatan kuota tersebut masih memerlukan verifikasi. Belum ada hasil pemeriksaan maupun klarifikasi resmi dari pihak pengelola SPBU dan Pertamina yang dapat memastikan penyebab kejadian tersebut. Karena itu, dugaan penyimpangan dalam transaksi maupun aktivitas pelangsiran BBM tetap perlu ditelusuri berdasarkan bukti dan keterangan pihak-pihak terkait.












